ANTRIA DWI LESTARI

Berpacu menjadi yang terbaik

Liberalisme

diposting oleh antria-d-l-fisip11 pada 02 May 2012
di Umum - 0 komentar

Review Week 3

“Liberalism”

Oleh : Antria Dwi Lestari | 071112027

 

Membahas liberalisme agaknya seperti membahas antonim atau kebalikan dari topik minggu lalu yaitu Realisme. Bila para Realist percaya bahwa manusia adalah sumber konflik dan segala sesuatunya harus diselesaikan dengan perang, maka kaum liberalist mempunyai faith bahwa perdamaian dunia dapat diraih dengan cara kerja sama. Mereka berpandangan positif ke depan dan optimis dengan kebaikan dari sifat manusia. Tentu ini sangat berkebalikan dengan realism yang, seperti kita ketahui, sangat pesimis. Kaum liberalis tak suka berkonflik, mau bekerja sama dan cenderung menggunakan rasionalitas.

Seorang filosof liberal yang muncul pada sekitaran abad ke-17, John Locke, melihat bahwa dalam negara-negara yang menjamin kebebasan tiap individu warga negaranya, perekonomian kapitalis modern memiliki potensi yang menjanjikan untuk dapat tumbuh dan memberikan kemajuan bagi manusia. John Locke berpendapat bahwa tiap negara seharusnya menjamin kebabasan warga negaranya dan memberikan wewenang penuh bagi mereka untuk bertahan hidup dengan caranya sendiri tanpa campur tangan dari pihak lain. Inilah yang merupakan perhatian dasar dari liberalisme, yaitu kebahagian dan kesenagnan individu. Hal ini sangat berlawanan dengan realist yang berpendapat bahwa negara adalah diatas segala-galanya.

Dalam liberalisme terdapat empat aliran utama yang mewakili aspek-aspek yang paling penting dan yang paling berpengaruh di studi ilmu hubungan internasional. Keempatnya adalah liberalism sosiologis, liberalism interdepensi, liberalism institusional dan liberalism republikan.

Yang pertama, liberalism sosiologis, menolak bahwa fokus utama ilmu HI adalah hanya negara saja. Mereka berpendapat bahwa hubungan antar warga negara atau rakyat memiliki peranan yang lebih penting daripada antar pemerintah untuk mendukung terciptanya perdamaian. Yang kedua, liberalisme interdependensi. Sesuai namanya, aliran ini menganggap bahwa terdapat ketergantungan antar masyarakat di suatu negara dengan masyarakat di negara lainnya, dan peran aktor transional menjadi esensial.Isu yang utama dibahas adalah mengenai prosperity, sementara issue kekuatan militer tidak terlalu dipertimbangkan. Intedependensi kompleks menyatakan adanya hubungan yang lebih bersahabat yang kooperatif dan saling menguntungkan antar negara.

Dalam pandangan liberalisme institusional dibahas mengenai manfaat institusi internasional dalam memajukan kerjasama antar negara dan membantu mengurangi rasa saling curiga dan menguatkan rasa percaya antar negara-negara. Yang terakhir, liberalisme republikan, menganggap bahwa dibandingkan sistem politik lain, negara demokrasi liberal cenderung bersifat lebih damai dan minim konflik. Dikutip dari pandangan Immanuel Kant, negara-negara demokrasi memegang nilai moral bersama yang mengarah pada pembentukan persatuan yang damai dan adanya budaya demokratis yang dapat digunakan untuk menyelesaikan konflik secara damai.

Yang mengkritisi pandangan-pandangan liberalis umumnya adalah para kaum neorealist. mereka menganggap harapan dan optimisme kaum liberal adalah sesuatu yang tak pasti. Memegang teguh teorinya, mereka beranggapan bahwa anarki tidak akan dapat hilang dari muka bumi ini, dan konflik adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Perdebatan ini memecah kaum liberal menjadi dua, yaitu kaum liberal lemah yang perlahan mulai “termakan” teori realist dan menerima pernyataan mereka, dan kaum liberal kuat yang masih bersikukuh kalau dunia sedang bergerak menuju perubahan yang sejalan dengan harapan-harapan kaum liberal.

 

Referensi :

Jackson, Robert dan George Sorensen.1999. Pengantar Hubungan Internasional. Yogyakarta: PT Pustaka Pelajar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :